Limbah Tekstil.

Limbah tekstil diketahui memiliki padatan tersuspensi dalam jumlah yang banyak, warna yang kuat, pH yang sangat berfluktuatif, suhu tinggi dan konsentrasi COD yang tinggi. Sebagai contoh, limbah tekstil dari suatu perusahaan yang berlokasi di Banwol Industrial Complex di Korea memiliki BOD 870 mg/l, warna 1340 PtCo unit, pH 11,0, suhu 420C dan konduktivitas 2630 mmho/cm. Polutan utama dalam limbah tekstil berasal dari proses pewarnaan dan finishing yang melibatkan pewarna baik sintetis maupun alami agar dihasilkan warna yang permanen.

Banyak metode yang digunakan dalam perlakuan limbah tekstil. Metode-metode tersebut diantaranya koagulasi kimia, oksidasi elektrokimia, filtrasi dan biologi. Beberapa metode dikembangkan baik secara individu maupun kombinasi. Proses-proses individu memiliki banyak problema. Sebagai contoh, dalam proses koagulasi kimia sejumlah besar Lumpur dapat dihasilkan dan kapabilitas perlakuan rendah. Oksidasi elektrokimia dapat mereduksi polutan namun meningkatkan biaya perlakuan. Perlakuan biologis lebih sulit karena membutuhkan bioreaktor spesifik. Oleh sebab itu kombinasi proses dianggap lebih baik.

Isolat mikroorganisme (Aeromonas sp dan Pseudomonas sp) dapat mengurangi pewarna dari limbah cair secara efektif dan tidak membutuhkan kolam Lumpur aktif sehingga dapat mengurangi biaya operasional, biaya konstruksi dan luas fasilitas jika diterapkan dalam kombinasi yang terdiri dari pretreatment biologi, koagulasi kimia dan oksidasi elektrokimia.

Perlakuan biologis dalam skala laboratorium adalah dalam reaktor 4,5 l (dengan volumen keja 3 l) dan pilot plant 1800 l (volumen kerja 1420 l) dan berat kering mikroorganisme yang diinokulasikan ke reaktor 1200 mg. Waktu retensi hidaulik dibuat konstan 2 hari. Dalam proses ini koagulan kimia yang digunakan adalah FeCl3.6H2O 3,25 x 10-3 mol/l dengan kondisi reaksi pada pH 6. Oksidasi elektrokimia dengan konsentrasi elektrolit NaCl 25 mM densitas 2,1 mA/cm2 dan laju aliran 0,7 l/menit.

Dalam skala laboratorium, inokulasi aeromonas salmonicida dan Pseudomonas vesicularis dengan media pendukung mampu menurunkan COD dari 750 mg/l menjadi 272 mg/l, sedang pada control mencapai 499 mg/l dan tanpa media pendukung 431 mg/l setelah 6 hari. Reduksi COD umumnya terhenti/relatif stabil antara 2 – 3 hari setelah inokulasi.

Dalam skala pilot plant reduksi COD dan warna terjadi pada mikroorganisme tanpa pendukung. COD turun 38,2 % dan warna 27,4 % setelah 5 hari pada perlakuan biologis. Pada perlakuan dengan media pendukung COD turun 68,8% dan warna 54,5 % sehingga terjadi perbaikan reduksi COD 30,6 % dan warna 27,1 %. Selama operasional konsentrasi DO dijaga 3 – 4 mg O2/l.

Jika digunakan media pendukung, konsentasi MLSS meningkat 3 kali lipat menjadi 570 mg/l dan hanya sekitar 27 % MLSS yang tersuspensi. tanpa media pendukung sebesar 210 mg/l. Pada proses Lumpur aktif konvensional, membutuhkan MLSS 300 – 400 mg/l sehingga proses ini menunjukkan efektivitas yang tinggi dengan konsentrasi MLSS yang rendah.

sumber:Kombinasi Proses pada Penanganan Limbah Tekstil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s