proses air limbah tekstil

Bab I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Salah satu tujuan pembangunan nasional (Sustainable Development) atau yang dikenal dengan Millenium Development Goal (MDG’s) adalah terciptanya kelestarian lingkungan hidup. Lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya (UU No. 23 Tahun 1997).
Proses pembangunan yang ditunjang oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat telah menghasilkan berbagai kemudahan yang mendukung terhadap terciptanya kesejahteraan manusia. Salah satu sektor pembangunan yang dianggap penting dalam kemajuan ekonomi adalah industri. Sektor industri telah berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, namun sektor ini telah berkontribusi besar pula terhadap kerusakan lingkungan hidup, berupa limbah yang mengandung berbagai macam logam berat dan senyawa kimiawi lainnya yang beracun (B3= bahan beracun dan berbahaya). Polutan beracun ini akan mengakibatkan kematian pada organisme di sekitarnya (hewan, tumbuhan, manusia).
Polutan yang bersifat toksik akan memengaruhi organisme yang berada di perairan. Pada konsentrasi rendah, polutan yang masuk ke perairan akan didegradasi oleh organisme (baik mikro maupun makro). Akan tetapi, kondisi ini tergantung pada daya adaptasi dan tingkat toleransi setiap organisme terhadap lingkungannya. Respon yang terjadi pada organisme dapat berupa kematian, perubahan perilaku, bioakumulasi, dan lain-lain. Kemampuan adaptasi dan toleransi organisme air terhadap polutan menyebabkan hewan ini dapat digunakan sebagai indikator ekologis pencemaran di suatu daerah. Syarat-syarat suatu organisme sebagai indikator ekologis diantaranya adalah: a) umumnya organisme steno, yang merupakan indikator yang lebih baik daripada organisme euri. Jenis organisme ini merupakan organisme yang terbanyak (dominan) dalam suatu komunitas; b) spesies atau jenis yang besar umumnya merupakan indikator yang lebih baik dari pada spesies yang kecil, karena spesies dengan anggota organisme yang besar mempunyai biomassa yang besar pada umumnya lebih stabil; c) sebelum yakin terhadap satu spesies atau kelompok spesies yang akan digunakan sebagai indikator, seharusnya kelimpahannya di alam telah diketahui terlebih dahulu; d) semakin banyak hubungan antarspesies, populasi atau komunitas seringkali menjadi faktor yang semakin baik apabila dibandingkan dengan menggunakan satu spesies.
Salah satu organisme yang dapat digunakan sebagai indikator ekologis dan terstandar sebagai hewan uji adalah ikan mas (Cyprinus carpio L.). Ikan ini mudah ditemui di berbagai tempat dan tingkat reproduktivitasnya tinggi.Selain itu, ikan ini mempunyai biomassa yang besar, sehingga lebih stabil berada di alam dan kelimpahannya cukup besar.
Untuk mengetahui tingkat toksisitas suatu polutan terhadap organisme hewan uji, digunakan suatu metode atau pengujian hayati (bioassay test).
1.2 Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui pengaruh air limbah industri tekstil terhadap ikan
2. Tingkat toksisitas (LC50) dari limbah industri terhadap ikan

Bahan dan Metoda
2.1 Penyediaan Limbah Industri
Limbah diambil dari saluran pembuangan limbah, ditampung dengan menggunakan jerigen air bervolume 20 liter. Limbah tersebut kemudian dibawa ke laboratorium dan disimpan untuk digunakan sebagai pengujian
2.2 Penyediaan Ikan
Hewan uji yang digunakan berupa ikan mas yang berukuran 5-8 cm, yang diperoleh dari toko penyedia ikan. Hewan uji dibawa ke laboratorium dengan menggunakan plastik yang telah diberi oksigen. Kemudian hewan uji disimpan/dikumpulkan dalam aquarium besar yang beraerasi. Sebelum digunakan sebagai hewan uji, ikan terlebih dahulu diaklimatisasi selama satu minggu. Selama proses aklimatisasi, ikan diberi pakan siap pakai yang diberikan pada pagi dan sore hari. Apabila selama aklimatisasi terjadi kematian lebih dari 10%, maka ikan tersebut tidak dapat dijadikan sebagai hewan uji dan diganti dengan yang baru.
2.3 Pengujian Pendahuluan Limbah Industri Terhadap Ikan
Uji toksisitas dilakukan dua tahapan; tahap pertama, uji pendahuluan yang dimaksudkan untuk memperoleh kisaran kritis konsentrasi (LC5 dan LD95). Pengujian dilakukan dengan enam tahap perlakuan konsentrasi, masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Konsentrasi limbah industri yang akan diujikan, yaitu 0,001 ppm; 0,01 ppm; 0,1 ppm; 10 ppm; 100 ppm; dan 1000 ppm. Untuk setiap tahapan pengujian, dilakukan dengan menggunakan metode air statis pada akuarium dengan volume 20 liter, dengan masing-masing bejana berisi 10 ekor ikan. Sebelum dilakukan pendedahan (fase exposure), ikan dipuasakan selama 1 hari. Jumlah ikan yang mati akibat pengaruh air limbah industri tekstil dicatat dan dikeluarkan dari bejana untuk menghindari pembusukan. Pengamatan dilakukan pada 0,5 jam, 24 jam dan 48 jam, dan 72 jam.
2.4 Pengujian Lanjutan Limbah Industri Terhadap Ikan
Uji toksisitas tahap dua dilakukan setelah mendapatkan kisaran kritis konsentrasi pada uji tahap satu (pendahuluan). Untuk mendapatkan kisaran kritis konsentrasi, dicari konsentrasi yang bisa menyebabkan kematian ikan dari 5-95%. Kemudian dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

A = anti log F

F = N-1√L

L=LC95/LC5

Dimana: A = interval geometris
F = faktor penambah/kenaikan
N = jumlah log dosis

Kemudian ditentukan enam interval konsentrasi yang akan digunakan untuk uji toksisitas tahap dua. Cara yang sama dengan tahap satu dilakukan.
2.4 Analisis data
Analisis data dilakukan untuk menentukan LC50, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menghitung persentase ikan yang mati pada masing-masing perlakuan
b.Apabila pada kontrol, ikan yang mati dengan persentase kurang dari 20%, maka dikoreksi dengan menggunakan rumus Abbots (Finney, 1952 dalam Busvinne, 1971), sebagai berikut:

Pt=(Po-Pc)/(100-Pc) x 100%

2.5 Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap perilaku dan morfologi ikan. Untuk mengetahui pengaruh air limbah industri tekstil terhadap perilaku ikan, dilakukan pengamatan selama setengah jam setelah dilakukan pendedahan terhadap komponen perilaku, seperti keaktifan berenang, arah berenang, tempat atau bagian akuarium yang paling diminati, dan lain-lain. Untuk mengetahui pengaruh air limbah industri tekstil terhadap morfologi ikan, dilakukan pembedahan pada tubuh ikan dan melihat bagian dalam tubuh ikan, terutama ginjal dan hati.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s